BEI Yakin Bunga Rendah Bisa Tarik Investor

BEI Yakin Bunga Rendah Bisa Tarik Investor

Bursa Efek Indonesia (BEI) Denpasar, Bali, optimistis tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia yang rendah akan mendorong pertumbuhan investor di pasar modal.

Kepala Perwakilan BEI Denpasar Agus Andiyasa di Denpasar, Selasa (30/1/2018), mengatakan tingkat suku bunga acuan atau BI seven days Reverse Repo Rate yang rendah sebesar 4,25 persen membuat investasi di pasar modal di daerah itu makin menjanjikan.

Dengan suku bunga yang rendah itu, instrumen investasi seperti tabungan dan deposito saat ini tidak memberikan imbal hasil sebesar investasi di pasar modal.

Hal itu, katanya, membuat masyarakat mulai menggeser cara berinvestasi ke pasar modal karena terbukti jumlah investor yang meningkat hingga 26 persen selama 2017 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Masyarakat atau investor akan memindahkan uangnya ke instrumen investasi yang memberikan ‘return’ (imbal hasil) yang lebih tinggi,” katanya.

BEI Denpasar mencatat selama 2017 jumlah investor pasar modal di Bali mencapai 10.729 atau naik dibandingkan dengan pada 2016 mencapai 8.499 investor.

Berdasarkan jumlah rekening efek (SRE) selama 2017, rekening meningkat dari sebelumnya 10.158 rekening menjadi 12.643 rekening.

Selain karena didorong suku bunga acuan yang rendah, katadia, optimisme melonjaknya investor pasar modal tahun ini, juga karena pertumbuhan fundamental ekonomi makin bagus sehingga investor lebih yakin berivestasi di pasar modal.

Untuk menjadi investor di pasar modal, lanjut Agus, kini tidak terlalu rumit karena hanya dengan modal minimal mulai Rp100 ribu, investor sudah memiliki saham suatu perusahaan yang melantai di bursa.

Mengingat minimum modal yang efisien, banyak investor kini berasal dari kalangan mahasiswa sehingga diharapkan dapat mendorong literasi dan inklusi keuangan.

“Generasi muda juga menjadi salah satu target kami. Oleh karena itu kami akan gencar dalam melakukan sosialisasi dan edukasi,” ucapnya.

Berdasarkan latar belakang profesi, jumlah investor pasar modal tertinggi dari pegawai swasta kemudian disusul pelajar, pegawai negeri, pensiunan, guru TNI/Polri, hingga ibu rumah tangga.