Rilis Statistik Ekonomi Kreatif , BEKRAF Gandeng BPS

Rilis Statistik Ekonomi Kreatif , BEKRAF Gandeng BPS
Spread the love

Jakarta – Di tahun Awal 2018, Kembali Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menyusun data ekonomi kreatif terkini dan terlengkap dari 2010-2016.

Tentunya Data statistik ekonomi kreatif akan menjadi suatu dasar dalam pengambilan kebijakan strategis pengembangan ekonomi kreatiInIndonesia sebagai tolak ukur efektivitas dari program-program strategis.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf mengatakan hasil pengukuran data statistik menunjukkan bahwa kinerja ekonomi kreatif Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan sepanjang tahun sebelumnya.

“Statistik Ekonomi Kreatlf inl dlharapkan dapat memberikan fakta clan data akurat sebagai basis pengambilan keputusan dan kebijakan, serta evaluasi perkembangan ekonomi kreatif (ekraf). “,Ujarnya di Jakarta,(27/2/2018).

Selain itu. bagi para pelaku ekonomi kreatif maupun masyarakat luas dapat memanfaatkan informasi terkini tentang potensl ekraf di Indonesia sekaligus memperoleh perspektif baru yang dapat menunjang perkembangan Usahanya ke depannya.

“Jika dilihat Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif pada 2016 naik mencapai Rp922,58 triliun dengan nilai kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 7,44 persen, atau meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp852,56 triliun atau 7,38 persen terhadap PDB nasional”,ungkapnya.

Dikesempatan yang sama, Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto mengungkapkan, hingga tahun 2017 lalu BPS telah dua kali bekerja sama dengan Bekraf dalam menyusun statistik ekonomi kreatlf.

“Harapan kami, penerbltan Buku Statistik Ekonomi Kreatif ini akan semakin mendorong munculnya kebljakan-kebijakan ekraf yang Iebih strategis dan tepat sasaran.”,jelas Suhariyato.

Dan menuritnya jika dlbandingkan dengan negara lain, pertumbuha‘n ekraf Indonesia cukup menjanjlkan, bahkan Iebih tinggi blla clibandingkan Rusia atau Singapura. Dengan tingkat pertumbuhan yang dicapai, make ekraf berpotensi menjadikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang Iebih balk.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan, terdapat 8,2 juta usaha ekraf yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, namun sebagian besar masih di area pulau Jawa. Dari total usaha ekraf tersebut, jumlah tenaga kerja yang terserap meningkat dari 15,96 juta tahun 2015 ke 18,9 juta d1 tahun 2016 dengan rata-rata pertumbuhan 4,69%. Sebagai model ekonomi baru, pertumbuhan ekraf cukup menjanjlkan, sepertl terllhat dari pertumbuhan ekspor produk ekraf yang Iebih tlnggi dibanding pertumbuhan ekspor keseluruhan sektor non-migas dengan negara ekspor tertlnggl Amerika Serikat, dllkuti Swiss clan Jepang. (L5/rdk)