Menyorot Dampak Friksi Dagang AS-China

Menyorot Dampak Friksi Dagang AS-China
Spread the love

Momentum ekspor Asia Tenggara diperkirakan menurun di tahun 2018 karena meningkatnya friksi perdagangan AS-China. Walaupun Manufacturing Purchasing Managers Index (PMI) regional sebagian besar tetap ekspansif, namun tetap menurun pada bulan April yang menunjukkan berkurangnya momentum aktvitas.

Direktur Regional ICAEW Asia Tenggara, Mark Billington, mengatakan, kemungkinan besar pemberlakuan tarif masih dapat diatasi. Perdagangan intra-regional yang lebih besar dan peningkatan kontribusi permintaan domestik terhadap PDB akan melindungi pertumbuhan Asia sampai taraf tertentu.

“Namun, ketegangan ekonomi yang lebih luas dan persaingan antara AS dan Cina memang tengah meningkat, dengan implikasi jangka panjang yang serius, terutama di bidang teknologi,” tutur Mark dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (7/6/2018).

Di sisi lain, penurunan dalam perdagangan global kemungkinan tidak akan terjadi meski ada risiko penurunan dari friksi perdagangan AS-Cina. Memang, walau friksi telah meningkat baru-baru ini, skenario yang paling mungkin adalah AS memberlakukan tarif sebesar 25% pada sekitar US$50 miliar impor Tiongkok dan Tiongkok membalas serupa.

“Hal ini setara dengan sekitar 0,4% dan 0,2% dari PBD Cina dan PBD AS masing-masing, dan mengurangi pertumbuhan PBD Cina sekitar 0,1 ppt pada 2018-19, dengan dampak yang lebih kecil di AS,” tutur Mark.