Rupiah Makin Melempem, BI: Jangan Lihat Angkanya

Rupiah Makin Melempem, BI: Jangan Lihat Angkanya
Spread the love

Bank Indonesia (BI) meminta masyarakat dan pelaku pasar tidak melihat pelemahan nilai tukar rupiah dari angkanya, tetapi dari sisi volalitas (tingkat depresiasi) dan supply demand-nya (ketersediaan dolar AS di dalam negeri).

Berdasarkan data Bloomberg, hari ini, Jumat (5/10/2018), nilai tukar rupiah dibuka pada level Rp15.190 per dolar AS, melemah dibandingkan penutupan kemarin yang berada di level Rp15.179 per dola AS.

Sementara data Jisdor BI pada Kamis (4/10/2018) menyebutkan nilai tukar rupiah berada di angka Rp15.133 per dolar AS, jauh merosot dibandingkan posisi Rabu (3/10/2018) yang berada di posisi Rp15.088 per dolar AS.

“Kamu jangan lihat level. Jadi, kalau kurs jangan lihat angka 15 ribunya. tapi lihat bagaimana volatility-nya, bagaimana lihat supply demand-nya. Saat ini likuiditas masih cukup. BI pasti memperhatikan itu,” ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara saat ditemui di gedung BI, Jakarta.

Menurut Mirza, dalam kondisi seperti saat ini bukan mata uang Indonesia saja yang mengalami pelemahan. India, Filipina, Meksiko, Brasil, Afrika Selatan, bahkan negara maju yang suku bunganya lebih rendah dari AS juga mengalami pelemahan kurs.

Sementara terkait volatilitas, rupiah sudah mengalami volatilitas sejak 2013. Dari Rp10 ribu ke Rp11 ribu per dolar AS, kemudian ke Rp12 ribu ke Rp13 ribu per dolar AS. Namun secara volatilitas, Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara emerging lain.

Per 2 Oktober 2018, secara year to date depresiasi rupiah sebesar 9,82%, lebih rendah dibandingkan beberapa negara peers, termasuk India (12,40%), Afrika Selatan (13,83%), Brazil (17,59%), dan Turki (37,26%).

“Australia juga mengalami pelemahan kurs. Jadi, yang penting supply demand-nya berjalan dengan baik, inflasi juga terjaga dengan baik, jadi jangan terpaku pada level,” jelas Mirza.