Produk Turunan Sawit Mesti Diperbanyak

Produk Turunan Sawit Mesti Diperbanyak

Produk turunan kelapa sawit harus diperbanyak untuk meningkatkan nilai tambah mengingat selama ini yang berkembang hanya minyak sawit mentah (Crude Palm Oil).

Wakil Gubernur Sumatera Selatan Ishak Mekki di Palembang, Sabtu (2/12/2017), mengatakan, seharusnya di daerah ini sudah bermunculan industri pengelola minyak sawit mentah menjadi barang jadi seperti kosmetik dan bahan pangan.

“Inilah yang perlu didorong, jangan hanya ada pabrik minyak goreng saja. Ke depan harus ada pabrik kosmetik, dan lainnya. Seperti di Malaysia, yang sudah puluhan hilirisasinya,” kata dia.

Menurutnya, peluang untuk mewujudkan hal tersebut sangat terbuka karena Sumsel akan memiliki Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api.KEK TAA ini ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun ini memanfaatkan areal yang sudah dibebaskan pemerintah.

“Jika tempat usaha yang sudah ada, maka investasi akan masuk. Tugas pemerintah adalah bagaimana memberikan kemudahan perizinan ke mereka dan memberikan jaminan usaha,” ujar dia.

Provinsi Sumatera Selatan menargetkan produksi sawit menembus 3,4 juta ton pada 2017 atau meningkat 400 ribu ton jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Selatan Harry Hartanto mengatakan dengan capaian tersebut maka produksi CPO Sumsel tetap berkontribusi setidaknya 10 persen dari total produksi nasional.

“Gapki mematok target tinggi tahun ini karena adanya penambahan luas tanam kebun dan kondisi iklim yang mendukung,” kata Harry.

Sementara itu, Berdasarkan citra satelit, luasan kebun sawit di Sumsel mencapai sekitar 1,3 juta hektare dengan 50 persen dikelola masyarakat, sisanya dimiliki swasta dan BUMN.

Harry menambahkan sebenarnya Sumsel memiliki potensi peningkatan produksi CPO hampir 5 juta ton karena terdapat 70 pabrik kelapa sawit berkapasitas 3.950 ton per jam dan rendemen sekitar 20 persen. Namun hal itu sulit terwujud karena belum tumbuhnya industri hilirisasi.

“Sehingga perkembangan industri hilir CPO malah terasa di Pulau Jawa karena lebih dekat dengan pasar, seperti biodiesel dan oleochemicals di Banten dan Jakarta. Sementara ini di Sumsel baru terbatas pabrik minyak goreng,” kata dia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, nilai ekspor CPO Sumsel meningkat sepanjang Februari 2017 (yoy) menjadi 48,86 juta dolar AS dari sebelumnya 36,22 juta dolar AS. (Ant)